Computer nercable


TEKNOLOGI 2G VS 3G

1.       TEKNOLOGI 2G

2G (atau 2-G) adalah singkatan dari teknologi generasi kedua telepon seluler. Teknologi seluler ini hadir menggantikan teknologi seluler pertama, 1G yang menggunakan sistem analog seperti AMPS (Advanced Mobile Phone System). 2G merupakan jaringan telekomunikasi selular yang diluncurkan secara komersial pada jaringan GSM standar di Finlandia oleh Radiolinja (sekarang bagian dari Elisa) pada tahun 1991. Berbeda dengan 1G, 2G menggunakan sistem digital. Selain melayani komunikasi suara, 2G juga dapat melayani komunikasi teks, yakni SMS. Time Division Multiple Access (TDMA)

Cara kerja teknologi ini adalah dengan membagi alokasi frekuensi radio berdasarkan satuan waktu. Teknologi TDMA dapat melayani tiga sesi peneleponan sekaligus dengan melakukan pengulangan pada irisan-irisan satuan waktu dalam satu channel radio. Jadi, sebuah channel frekuensi dapat melayani tiga sesi peneleponan pada jeda waktu yang berbeda, tetapi tetap berpola dan berkesinambungan. Dengan merangkaikan seluruh bagian waktu tersebut, maka akan terbentuk sebuah sesi komunikasi.

  1. TEKNOLOGI 3G

G, singkatan untuk “Generasi Ketiga”, ialah piawai dan teknologi telefon bimbit generasi ketiga yang menyusuli 2G. Berbeza dengan rangkaian IEEE 802.11, rangkaian 3G merupakan rangkaian telefon bimbit kawasan luas yang berkembang sehingga merangkumi capaian internet kelajuan tinggi serta juga telefoni video.3G (dari bahasa Inggris: third-generation technology) merupakan sebuah standar yang ditetapkan oleh International Telecommunication Union (ITU) yang diadopsi dari IMT-2000[1] untuk diaplikasikan pada jaringan telepon selular. Istilah ini umumnya digunakan mengacu kepada perkembangan teknologi telepon nirkabel versi ke-tiga. Melalui 3G, pengguna telepon selular dapat memiliki akses cepat ke internet dengan bandwidth sampai 384 kilobit setiap detik ketika alat tersebut berada pada kondisi diam atau bergerak secepat pejalan kaki. Akses yang cepat ini merupakan andalan dari 3G yang tentunya mampu memberikan fasilitas yang beragam pada pengguna seperti menonton video secara langsung dari internet atau berbicara dengan orang lain menggunakan video.. 3G mengalahkan semua pendahulunya, baik GSM maupun GPRS.[4]. Beberapa perusahaan seluler dunia akan menjadikan 3G sebagai standar baru jaringan nirkabel yang beredar di pasaran ataupun negara berkembang. Teknologi 3G terbagi menjadi GSM dan CDMA. Teknologi 3G sering disebut dengan mobile broadband karena keunggulannya sebagai modem untuk internet yang dapat dibawa ke mana saja

  • KELEMAHAN DAN KELEBIHAN 2G DAN 3G

Kelemahan sistem 2G yang utama termasuk:

  • Di kawasan terpencil, isyarat digital yang lebih lemah tidak berupaya mencapai menara sel.
  • Berbeza dengan sistem analog, sistem digital mempunyai lengkung pereputan yang bercerancang. Walau bagaimanapun, ini memberikan kedua-dua kelebihan dan kelemahan. Di bawah keadaan yang baik, sistem digital akan berbunyi lebih baik daripada sistem analog, tetapi ia akan gagal sama sekali apabila keadaan bertambah buruk.
  • Berbeza dengan sistem analog, sistem digital tidak boleh mempunyai dua atau lebih “klon” telefon bimbit yang memiliki nombor telefon yang sama. Sedangkan ini dapat mencegah penipuan, pengklonan dapat memberikan kelebihan dalam sesetengah keadaan yang sah. Misalnya, seseorang boleh membuat salinan sandar untuk telefon bimbitnya sebagai langkah keselamatan kalau-kalau adanya kerosakan atau kehilangan. Selain itu, dia juga boleh memasang telefon bimbit yang kedua secara tetap di dalam keretanya atau di bengkel terpencil. Dengan sistem digital, ini tidak lagi mungkin.
  • Sedangkan panggilan digital biasanya tidak mempunyai elektrik statik dan hingar latar, pemampatan kehilangan yang digunakan oleh CODEC akan mengakibatkan pengurangan julat bunyi yang disampaikan. Dengan kata yang lain, kualiti nada suara seseorang yang bercakap ke dalam telefon bimbit digital akan dikurangkan walaupun suaranya adalah lebih jelas kepada penerima.
  • KELEBIHAN DAN KEKURANGAN 3G
  1. Kelebihan: Perkembangan teknologi pita lebar bergerak menguntungkan baik untuk dunia bisnis, pemerintahan maupun perorangan, karena semakin baru teknologinya semakin besar data yang dapat dikirimkan dalam waktu yang lebih singkat. Jenis data yang dapat dikirimkan juga menjadi lebih beragam, tidak hanya huruf dan angka, tetapi juga gambar diam, gambar bergerak, dan suara.
  2. Kekurangan: Disamping harganya lebih mahal, perlu diperhatikan aspek keamanannya dan aspek etika di dalam penggunaan teknologi yang baru. Peran ITU sangat penting di sini.Penyedia jasa layanan pita lebar bergerak harus membangun jaringan baru yang memerlukan investasi yang sangat besar.
  • PERBEDAAN 2G DENGAN 3G

Untuk dapat membangun jaringan UMTS dalam skala yang luas masih banyak aspek-aspek yang harus diselesaikan. Ketidakmatangan dalam pembentukan spesifikasi kadang akan menghambat proses ini, karena terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara 2G dan 3G.Evolusi dari 2G menuju 3G melibatkan setidaknya 3 hal, yaitu:
a).Evolusi teknikal
b).Evolusi jaringan
c) Evolusi layanan

Evolusi teknikal akan menyangkut masalah bagaimana elemen dari jaringan akan dibangun dengan teknologi yang baru. Bila elemen-elemen dalam suatu jaringan sudah diganti dengan menggunakan teknologi yang baru, maka akan terjadi suatu evolusi jaringan dimana terjadi perubahan fungsi secara umum dalam jaringan.

Evolusi teknikal dan jaringan dilakukan guna menciptakan suatu layanan baru yang lebih baik dari yang sebelumnya. Dengan demikian intinya adalah adanya evolusi layanan dimana end user akan melakukan permintaan layanan tertentu dan hal ini dapat ditangani olehkomponen-komponen teknikal yang ada dalam jaringan tersebut. ITU memulai proses untuk melakukan standarisasi sistem 3G dalam kerangka IMT2000 untuk layanan komunikasi bergerak. Sedangkan di Eropa yang melakukan standarisasi terhadap 3G adalah European Telecommunications Standard Institute (ETSI). Pada tahun 1998 dibentuk Third Generation Partnership Project (3GPP) yang bertugas untuk merumuskan spesifikasi teknik dari 3G. 3GPP berusaha untuk bekerja secara cepat. Hasilnya 3GPP telah berhasil merumuskan empat bagian utama dari standarisasi area UMTS. empat bagian utama itu meliputi:

  • 3GPP radio access group, yang bertanggung jawab terhadap:
    · Spesifikasi radio layer 1, 2 dan 3 RR.
    · Interface dari Iub dan Iur.
    · Operasi dari UTRAN dan perawatan peralatan.
    · Spesifikasi performa dari radio BTS.
    · Penyesuaian spesifikasi terhadap percobaan aspek radio pada base station.
    · Spesifikasi untuk performa aspek radio dari suatu sistem yang ditinjau.
  • 3GPP core network  group yang bertanggung jawab atas:
    · Manajemen mobilitas, mengontrol koneksi sinyal antara pengguna dengan jaringan.
    · Pensinyalan jaringan antara masing-masing node.
    · Definisi dari masing-masing tugas antara core network dengan external network .
    · Aspek-aspek jaringan dari Iu interface dan operasi serta pemeliharaan jaringan.
  • 3GPP terminal group yang bertanggung jawab atas:
    · Layanan kapabilitas protokol
    · Messaging
    · Layanan end-to-end
    · Model atau framework untuk interface terminal dan service execution.
    · Penyesuaian diri terhadap spesifikasi terminal, termasuk aspek radio.
  • 3GPP service dan aspect group yang bertangung jawab atas:
    · Definisi dari service dan masing-masing peralatan
    · Pembangunan kapabilitas service dan service architecture untuk jaringan seluler,jaringan tetap/fixed, dan aplikasi dari cordless.
    · Charging dan Accounting.
    · Manajemen dari jaringan dan aspek-aspek keamanan.
    · Definisi, evolusi, dan perawatan dari keseluruhan arsitektur.

Desain dari sistem UMTS akan berpengaruh terhadap pelayanan yang akan diberikan. Salah satu hal yang paling menyulitkan adalah perbedaan yang besar dari berbagai tipe dari aplikasi, yaitu suara, data, video, dan multimedia. Perbedaan yang dimaksud disini adalah kebutuhan akan bandwidth., toleransi terhadap error, dan delay. Masing-masing aplikasi memiliki karakteristik tersendiri.

Efisiensi dari manajemen suatu radio juga penting dalam jaringan seluler termasuk didalamnya layanan UMTS. Bagian yang paling utama dari standarisasi IMT2000 adalah berusaha semaksimal mungkin untuk dapat membuat suatu standarisasi baru dari air interface sehingga dapat meningkatkan pemakaian frekuensi secara lebih efisien dengan demikian akan didapatkan efektifitas. 3GPP memilih Wideband CDMA (WCDMA) untuk digunakan sebagai air interface dalam UMTS.

UMTS akan menjadi generasi baru dibidang teknologi telekomunikasi multimedia mobile. Area yang akan terlayani oleh UMTS akan mencakup seluruh dunia. Cakupan UMTS ini didapatkan dari kombinasi beberapa sel, baik sel berukuran kecil yaitu pikosel yang terletak didalam bangunan, maupun sel global yang dilayani oleh satelit. Semua sel tersebut akan memberikan layanan UMTS kepada semua daerah. Untuk masa transisi dari GSM menuju UMTS, maka UMTS tidak langsung mengambil alih posisi dari GSM secara seratus persen melainkan UMTS dapat diaplikasikan bersamaan dengan GSM.

Antara generasi kedua dan generasi ke-3, sering disisipkan Generasi 2,5, yaitu digital, kecepatan menengah (hingga 150 Kbps). Teknologi yang masuk kategori 2,5G adalah layanan berbasis data seperti GPRS (General Packet Radio Service) & EDGE (Enhance Data rate for GSM Evolution) pada domain GSM dan PDN (Packet Data Network) pada domain CDMA.

  • DAMPAK DARI TEKNOLOGI 3G

Teknologi 3G mempunyai dampak positif dan dampak negatif.

Dampak positifnya antara lain adalah dengan teknologi 3G dapat memperoleh layanan jasa komunikasi dan informasi yang lengkap selain untuk menelpon dan menulis sms.Yakni bisa untuk mengakse internet,merekam gambar atau video,merekam file gambar denagn cepat dan ukuran yang besar,menonton tv,dan juga dapat melihat gambar lawan bicara kita ketika sedang menelpon sehingga kita bisa tahu apa yang sedang dilakukan oleh lawan bicara kita.Sehingga 3G juga disebut sebagai tekologi multimedia mengingat banyak yang diperoleh dari teknologi komunikasi dan informasi yang di peroleh dari sebuah hp yang hanya segenggam tangan kita.

Dampak negatifnya.Antara lain adalah adanya penyalahgunaan dari teknologi 3G yang menyimpang dari moral dan norma yang berlaku,seperti perekaman dan penyebaran melalui download gambar atau video pornografi atau hal lain yang menyimpang dari agama.Sehingga dapat merusak sikap perilaku dan moralitas bangsa Indonesia.Selain itu dengan teknologi 3G akan membuat masyarakat Indonesia lebih pada masyarakat malas dalam masyarakat cyber atau maya.Mengingat kemudahan dan kepraktisan dari 3G yang sangat memanjakan para penggunanya.Juga mengingat Indonesia tidak melalui massa Gemar Membaca dan Gemar Menulis dan langsung ke massa Maya atau teknologi komputer termasuk 3G,yang mnembuat masyarakat Indonesia kurang terampil dalam menulis dan membaca.

  • ASPEK TEKNOLOGI,REGULASI,DAN BISNIS

Dari aspek teknologi, tidak ada implementasi teknologi baru. 2G sudah mencapai maturity, 3G secara teknologi sudah terpasang tinggal diupayakan penyebar-luasan basis pelanggan. Untuk teknologi selular lain seperti CDMA, profile-nya juga sama, sudah terpasang tinggal peningkatana pentrasi pasar. Jikapun ada perubahan, akan terjadi pada peningkatan kapasitas jaringan tulang punggung (backbone) khususnya di wilayah Indonesia bagian timur yang pada bulan Oktober ini mulai dipasang jaringan serat optik. Selain itu, tender Wimax di pertengahan tahun 2009, kemungkinan sudah ada perusahaan pemenang tender yang mulai menawarkan layanan. Inipun dengan catatan, apabila secara komersial layak dioperasionalkan mengingat, ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menjadi syarat utama, sementara kemampuan manufaktur dalam negeri bisa jadi belum mampu memenuhi permintaan , baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Dari aspek regulasi, saya memperkirakan peluang terjadi perubahan dalam regulasi telekomunikasi relatif kecil. Regulasi signifikan seperti pengaturan tarif, interkoneksi,standarisasi peralatan,USO,frekuensi, dan perizinan sudah dibuat pada tahun 2009 ke belakang, dan secara substansial sudah mencukupi sebagai syarat dalam industri telekomunikasi yang kompetitif. Khusus tentang perizinan,suatu aspek yang sangat berpengaruh terhadap struktur industri, arahnya akan berubah, tidak lagi satu izin untuk satu jenis layanan seperti sekarang ini, namun mengarah ke satu izin untuk berbagai layanan (universal licensing = UL). Saya perkirakan sepanjang tahun 2010 diskursus kebijakan dan regulasi telekomunikasi akan diwarnai oleh topik UL ini. Hal ini dapat dimaklumi, karena Indonesia dalam era kompetisi, yang mensyaratkan pengelolaan sumberdaya telekomunikasi secara efisien dan efektif.

Dari aspek bisnis, persaingan harga akan semakin ketat.Namun demikian, saya menduga, para eksekutif telekomunikasi akan lebih bijak dalam bersaing. Belajar dari tahun – tahun lalu, persaingan tajam yang saling memprovokasi harga hanya berujung pada penurunan keuntungan. Sementara, loyalitas pelanggan yang meningkatkan value perusahaan susah tercapai lantaran mudahnya berganti-ganti nomor serta “berhasilnya” program provokasi harga.dari aspek bisnis,persaingan harga akan semakin ketat. Namun demikian,saya menduga, para eksekutif telekomunikasi akan lebih bijak dalam bersaing. Belajar dari tahun – tahun lalu, persaingan tajam yang saling memprovokasi harga hanya berujung pada penurunan keuntungan. Sementara,loyalitas pelanggan yang meningkatkan value perusahaan susah tercapai lantaran mudahnya berganti-ganti nomor serta “berhasilnya”program provokasi harga.

  • Ø  JARINGAN DAN INFRASTRUKTUR 3G DAN 2G

Di area pengembangan jaringan, strategi XL untuk menghadapi perubahan dalam bisnis model, dari tariftinggi dan volume-rendah ke tarif-rendah dan volume-tinggi adalah meningkatkan kapasitas jaringan. Pada akhir 2007, jangkauan perusahaan telah mencapai sekitar 90% populasi penduduk Indonesia. Kapasitas jaringan yang lebih besar dan peningkatan kualitas membuat XL mampu menangani pertumbuhan pelanggan, memperluas pangsa pasar dan mengakomodasi lonjakan trafik, baik untuk pelanggan baru maupun yang sudah ada.

Di tahun 2008 XL mengeluarkan USD 1,2 miliar untuk belanja modal, 90% dari belanja modal yang ditujukan bagi site development adalah untuk peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan. Beberapa inisiatif untuk pengembangan jaringan XL lakukan, lima diantaranya memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan teknologi XL, yaitu: peningkatan BTS sebesar 51%, sistem penagihan dengan versi yang lebih canggih, kesinambungan dari pemasangan kabel serat optik di darat dan bawah laut, aplikasi teknologi terkini untuk teknologi switching, serta pembangunan pusat penanganan bencana (Disaster Recovery Center) yang konsisten di seluruh Indonesia. Dengan senantiasa merencanakan dan menjalankan penyediaan kapasitas, XL mampu meningkatkan kapasitas jaringan empat sampai lima kali lipat dibandingkan awal 2007.

Hasilnya, di 2008 XL berhasil menangani 109,5 miliar total menit, atau meningkat tujuh kali dari 13,8 miliar pada tahun lalu. Angka penggunaan (utilization rate) juga meningkat menjadi 60%-70%. Aplikasi teknologi dan sistem terkini juga mempersiapkan perusahaan menghadapi tantangan dan tuntutan yang akan datang di industri telekomunikasi.

Sesuai ketentuan lisensi moderen, operator yang memiliki izin layanan 2G dan 3G pada periode tertentu diwajibkan menggelar (deploy) infrastruktur jaringan, menggelar layanan komersial, dan membayar biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi. Jika operator tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan maka pemerintah akan mengenakan sanksi, baik berupa administratif, sanksi denda, maupun sanksi pencabutan izin lisensi.
Dari sisi infrastruktur, audit menyangkut kondisi daya pancar atau sinyal jaringan apakah sudah memenuhi ketentuan dan dapat ditangkap pengguna layanan, sehingga frekuensi sebagai sumber daya terbatas digunakan secara optimal.

Menurut Merza, semula regulator hanya mengaudit jaringan milik operator 3G, namun pemeriksaan diperluas hingga ke jaringan 2G mengingat di segmen ini justru memiliki pelanggan jauh lebih besar.
“Pemeriksaan juga termasuk kewajiban pembayaran biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi, karena antara 3G dan 2G terdapat sejumlah perbedaan yang mencolok,” katanya.
Ia menjelaskan, nilai BHP frekuensi layanan 3G dapat dihitung secara pasti karena dibayar dimuka (upfront fee) yang didasarkan pada besarnya bandwith yang dipakai, sedangkan BHP frekuensi 2G didasarkan pada jumlah pembangunan menara radio pemancar (BTS).

Sementara itu, anggota BRTI Kamilov Sagala mengatakan, audit jaringan merupakan langkah regulator dalam menjalankan peran dan fungsinya agar pelanggan dilindungi kepentingannya.

“Audit ini merupakan hal yang tepat dan wajar. Pemeriksaan yang merupakan program tahunan pemerintah itu, demi melindungi kepentingan konsumen,” kata Kamilov.
Saat ini terdapat lima operator 3G yaitu PT Telkomsel, PT Indosat Tbk, PT Excelcomindo Pratama Tbk, PT Natrindo Telepon Seluler (NTS), dan PT Hutchison CP Telecommunication.
Di segmen 2G, selain kelima operator 3G tersebut, juga ditambah dengan PT Mobile-8 Telecom, PT Smart Telecom, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, dan PT Telkom Tbk.

Sekjen Indonesia Telecommunication User Group (Idtug) Muhammad Djumadi berpendapat, pemeriksaan sebaiknya dititikberatkan pada operator 2G mengingat segmen tersebut memiliki cakupan jaringan yang lebih luas dari 3G.

“Fokus pemeriksaan 2G karena layanan ini bersifat massal dan paling banyak dipakai konsumen,” kata Jumadi.
Menurut Indikator Makro ICT Nasional Depkominfo, jumlah pelanggan seluler pada 2007 mencapai 96,41 juta nomor, naik sekitar 51% dibanding 2006 yang hanya 63,8 juta nomor.
Pelanggan telepon tetap nirkabel (FWA) yang mencapai 11 juta nomor, sedangkan te
telepon tetap (kabel) 8,7 juta nomor.

3G secara teknologi sudah terpasang tinggal diupayakan penyebar-luasan basis pelanggan. Untuk teknologi selular lain seperti CDMA, profile-nya juga sama, sudah terpasang tinggal peningkatana pentrasi pasar. Jikapun ada perubahan, akan terjadi pada peningkatan kapasitas jaringan tulang punggung (backbone) khususnya di wilayah Indonesia bagian timur yang pada bulan Oktober ini mulai dipasang jaringan serat optik. Selain itu, tender Wimax di pertengahan tahun 2009, kemungkinan sudah ada perusahaan pemenang tender yang mulai menawarkan layanan. Inipun dengan catatan, apabila secara komersial layak dioperasionalkan mengingat, ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menjadi syarat utama, sementara kemampuan manufaktur dalam negeri bisa jadi belum mampu memenuhi permintaan pasar, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Kedua, dari aspek regulasi, saya memperkirakan peluang terjadi perubahan dalam regulasi telekomunikasi relatif kecil. Regulasi signifikan seperti pengaturan tarif, interkoneksi, standarisasi peralatan, USO, frekuensi, dan perizinan sudah dibuat pada tahun 2009 ke belakang, dan secara substansial sudah mencukupi sebagai syarat dalam industri telekomunikasi yang kompetitif. Khusus tentang perizinan, suatu aspek yang sangat berpengaruh terhadap struktur industri, arahnya akan berubah, tidak lagi satu izin untuk satu jenis layanan seperti sekarang ini, namun mengarah ke satu izin untuk berbagai layanan (universal licensing = UL). Saya perkirakan sepanjang tahun 2010 diskursus kebijakan dan regulasi telekomunikasi akan diwarnai oleh topik UL ini. Hal ini dapat dimaklumi, karena Indonesia mulai memasuki tahap pendewasaan dalam era kompetisi, yang mensyaratkan pengelolaan sumberdaya telekomunikasi secara efisien dan efektif.

Bisnis data dan akses Internet secara mobil yang mulai ditawarkan operator sejak awal 2008 (setelah infrastruktur 3G terpasang) dan mulai menanjak pada 2009, pada 2010 akan menemui tantangan persaingan dari operator Broadband Wireless Access (BWA) yang menggunakan Wimax. Memang lisensi BWA yang ditenderkan pada Mei 2009 untuk jenis layanan nomadic alias tetap (fixed) namun dapat bergerak selagi masih berada dalam jangkauan Base Transceve System (BTS) dan ketika pergerakan melewati batas jangkauan (coverage) pengguna harus menyambung kembali hubungan yang terputus. Mengingat apabila hanya mengandalkan layanan nomadic daya tariknya diperkirakan relatif rendah, maka saya menduga pemegang lisensi BWA akan mulai “memperkenalkan” secara diam-diam layanan mobile BWA, hal ini karena secara teknologi memungkinkan.
Masih dalam aspek bisnis, mulai maraknya layanan broadband internet access baik menggunakan teknologi EDGE, GPRS, 3g maupun Wimax, lazimnya akan menuntut ketersediaan konten. Tanpa konten, ibarat jalan raya yang dapat dilalui kendaraan berkecepatan tinggi, mobil sudah mampu melaju dengan kecepatan tinggi, namun tidak ada penumpang di dalamnya. Bicara konten, produk asing yang sudah terkenal oleh masyarakat penggunan perangkat ICT di Indonesia ada banyak sekali, salah satu contohnya facebook. Dari segi ini mestinya ketersediaan konten sudah tidak perlu diragukan lagi, orang asing luar negeri sudah banyak yang membuatnya, tinggal gunaka saja, gratis. Persoalannya, dari yang tersedia banyak ini, porsi konten produksi dalam negeri masih sangat sedikit, untuk menggantikan kata tidak ada yang meraih sukses pasar di negeri sendiri. Padahal, bisnis konten mestinya memberi nilai tambah yang cukup besar bagi bisnis telekomunkasi. Kalaupun ada konten prosuksi dalam negeri lebih banyak yang ecek-ecek, dan banyak pihak merasa dirugikan karena mengikuti layanan nilai tambah seperti sms berhadiah, sms ramalan, dan lain sebagainya.
Apa saja yang menjadi peluang dan tantangan sektor ini di tahun depan?

Peluang? Masih banyak daerah di wilayah Indonesia yang belum terjangkau layanan telekomunikasi baik untuk suara maupun data. Sementara, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tahu manfaat telekomunikasi. Artinya permintaan terhadap layanan telekomunikasi masih cukup besar untuk diberikan oleh semua operator telekomunikasi yang ada.

Tantangan? Bagaimanapun, suka atau benci, sadar atau tidak tahu, telekomunikasi sudah beralih rupa menjadi komoditas. Namun demikian, perlakuan penyediaan layanan telekomunikasi hanya dengan pendekatan bisnis tidak tepat. Masih banyak wilayah dan penduduk Indonesia yang membutuhkan “bantuan” hingga mampu memiliki “kebutuhan” terhadap telekomunikasi. Konflik kepentingan semacam ini perlu dijembatani oleh pembuat kebijakan dengan menyatakan bahwa untuk daerah – daerah tertentu, seperti misalnya kawasan tertinggal, daerah perbatasan, daerah terpencil, penyediaan layanan telekomunikasi menjadi tanggung jawab pemerintah. Dalam pelaksanaannya bisa saja diserahkena ke swasta atau BUMN, namun karena masih merugi sehingga pemerintah memberikan subsidi.
Tantangan lain? Masih banyak, khususnya bagi operator yang masuk ke pasar relatif belakangan, seperti 3 (baca: three) dan Axis. Mereka berdua masuk ke layanan GSM dan 3G ketika pasar sudah dikuasai oleh 3 pemain besar Telkomsel, Indosat dan XL. Tantangan pertama bagi kedua operator pendatang baru ini sudah terlewati, seperti mendapatkan interkoneksi dari semua operator lainnya, tantangan kedua juga sudah berhasil diatasi, ketika kedua operator baru ini mulai memasuki pasar dan memperkenalkan produk mereka dengan tarif yang lebih murah dari para pendahulunya. 2010 akan menjadi tahun penentu bagi kedua 3 dan Axis, apakah masing-masing sanggup meraih 10 juta pelanggan setia. Dengan layanan yang tidak berbeda dari para pesaingnya, tidak ada perbedaan signifikan segmentasi pasar yang disasar, serta wilayah jangkauan yang sama (nasional) maka hanya tersisa strategi perusahaan yang akan membedakan dua perusahaan ini dari golongan kalah atau menang. Jika kalah, maka saya perkirakan, merger dan akuisisi akan terjadi di 2011.
Apakah ketatnya persaingan di sektor ini akan memunculkan tren merger atau bahkan akuisisi?
Pembicaraan merger dan akuisisi antara dua operator telekomunikasi dengan teknologi yang sama (CDMA) sudah terjadi sejak tengah tahun 2009, sampai wawancara ini ditulis, transaksi belum terjadi. Jika segala sesuatunya lancar, awal 2010 akan diwarnai oleh bergabungnya dua operator CDMA. Atau jika sampai dengan tengah tahun 2010 berita merger dua operator CDMA ini tidak muncul, maka salah satu atau keduanya sudah diakuisisi oleh investor yang berbeda. Yang hampir pasti, kedua operator CDMA ini memerlukan “pertolongan” atau darah segar dari pemilik baru.

Untuk operator selular yang berbasis GSM dan 3G, profile knerjanya agak berbeda. Tiga operator besar (Telkomsel, Indosat dan XL) rasanya tidak ada perubahan dalam susunan pemilik saham. Hal ini dapat dimengerti karena motivasi pemegang saham lebih pada perluasan usaha serupa mereka di negerinya masing-masing, dan mereka mudah-mudahan bukan tergolong investor yang jangkauan wawasannya pendek. Ketiga operator sellular tersebut relatif sudah stabil, tinggal mengembangkan layana dan mempertahankan diri jika sewaktu-waktu terjadi goncangan pasar. Merger dua atau lebih operator selular berbasis GSM dan 3G keliatannya tidak terjadi di 2010, tetapi ada kemungkinan terjadi di tahun 2011. Itupun dengan asumsi kedua pendatang baru operator GSM/3G tersebut gagal mencapai moment perubahan pada kuartal 4 tahun 2010.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s